Roda kehidupan memang terus berputar, terkadang diatas dan terkadang dibawah. Seperti itulah kehidupan yang dirasakan pesepak bola Luka Modric. Masa kecil yang dipenuhi duka di tempat pengungsian akhirnya membuatnya merasakan manisnya kehidupan. Gelandang Real Madrid ini usai mengantar Real Madrid menjadi juara Liga Champions tiga kali berturut-turut, akhirnya sukses menjadikan dirinya pantas meraih trofi Ballon d’Or 2018.

Menjadi Kapten Tim Nasional Kroasia

Banyak yang sudah memprediksikan bahwa Luka Modric pasti meraih trofi Ballon d’Or 2018. Hal itu pun mengakhiri dominasi Christiano Ronaldo dan Lionel Messi di trofi serupa sebelumnya. Usai sukses mengatar Real Madrid memenangi trofi Liga Champions, Modric pun selanjutnya bersinar bersama tim nasional Kroasia.

Saat bermain di Piala Dunia 2018, Modric untuk pertama kalinya sukses memimpin sebagai kapten tim nasional Kroasia untuk menembus final Piala Dunia untuk pertama kalinya. Kesuksesan itupun semakin menegaskan kemampuan yang ia miliki di atas lapangan merupakan talenta yang tak bisa diragukan.

Meski harus tumbuh di pengungsian dan menjadi korban perang yang terkenal dengan Croation War of Independence, ia tetap tangguh berdiri sampai sekarang meski perang itu memaksanya mengungsi demi keselamatan hidupnya. Meski ia tumbuh bersama luka atas kematian kakeknya yang dibunuh usai penangkapan, Modric tetap gemilang di usia 33 tahunnya.

Luka Modric lahir di Zadar pada 9 September 1985. Kehidupannya di masa lalu bisa dibilang jauh dari kenyamanan dan ketenangan. Saat itu Kroasia masih menjagi bagian Yugoslavia yang sering rawan akan konflik. Di masa kecil, Modric hidup bersama kakeknya karena kedua orang tuanya sibuk bekerja di sebuah pabrik rajut.

Getirnya Perjalanan Hidup Luka Modric

Modric tinggal di daerah pegunungan Velebit. Berkat hidup bersama kakeknya, ia tumbuh akan kecintaannya terhadap sepak bola. Setiap pagi kakeknya, Luka Sr membawa ternak ke bukit sementara Modric yang saat itu masih berusia enam tahun kian kali bermain bola bersama teman-temannya di sekitar rumah mereka.

Nahas, di tahun 1991 tepatnya pada 9 Desember, Luka Sr ditangkap dan dibunuh secara kejam oleh tentara Yugoslavia. Kala itu peperangan memang sedang dipuncaknya usai Kroasia memerdekakan diri dari tanah Yugoslavia. Kakek Modric ditangkap bersama lima warga desa lainnya saat sedang membawa ternak ke bukit oleh tentara Serbia yang berseragam Yugoslavia. Mereka membunuhnya secara kejam nan sadis.

Usai menangkap kakeknya, tentara Serbia menyerbu tempat tinggalnya dan membakar rumah-rumah penduduk. Akibat perang itu, Modric harus pergi mengungsi ke tempat yang lebih aman. Jauh dari tempat tinggal membuat Modric harus pandai menyesuaikan diri. Karena hidup di sebuah rumah susun, Modric menghabiskan waktunya bermain bola di tempat parkir.

Di tempat itu pula Modric akhirnya bertemu dengan Marko Ostrij. Langkah awal yang akhirnya menjadiakan Modric sebagai pesepakbola profesional. Hal itu lantaran Modric kian bersemangat setiap kali bermain sepak bola. Hingga suatu hari, salah satu pekerja yang tinggal di rumah susun itu menelepon direktor NZ Zadar yakni Josip Bajlo.

Pekerja bandar togel itu meminta agar Josip Bajlo melihat langsung permainan Modric yang kala itu masih berusia tujuh tahun. Josip pun langsung tertarik akan talenta yang dimiliki Modric. Akhirnya tanp pikir panjang, ia menawarkan agar Modric segera mendaftar ke sekolah dasar dan akademi Zadar. Meski awalnya ia kesulitan karena kondisi ekonomi keluarganya buruk, akhirnya Modric bisa bersekolah hingga masuk akademi olahraga berkat pamannya.Sungguh perjuangan yang hebat ya!