Disney akhirnya buka suara terkait dengan karakter Jenderal Ling Shang yang mana absen di film Mulan yang dibuat versi live actionnya. Produser Jason Reed akhirnya mengatakan bahwa gerakan #MeToo jadi salah satu penyebab mengapa karakter Jenderal Li Shang ini ‘menghilang.’

Gerakan #MeToo Jadi Salah Satu Penyebab Karakter Jenderal Li Shang ‘Hilang’

“Saya rasa secara khusus karena kemunculan gerakan #MeToo. Memiliki seorang komandan yang juga memiliki hubungan cinta seksual sangat lah tidak nyaman. Kami anggap itu tak pantas,” ungkap Jason Reed dilansir dari CNN Indonesia.

Dalam versi animasinya, Jenderal Li Shang tak Cuma jadi karakter kunci. Ia juga menarik perhatian dengan penampilannya yang sangat menawan dan kemampuannya dalam seni bela diri. Karakternya juga ikut berperngaruh dalam jalan cerita Mulan, tidak Cuma untuk Mulan totobet hk namun juga seluruh pasukan untuk bangkit.

Kehadiran Li Shang pun juga menunjukkan dampak yang negative diakibatkan oleh perang yakni saat dirinya kehilangan ayah. Tidak Cuma itu, Li Shang pun memiliki ikatan asmara dengan karakter lain Mulan yang maskulin, Ping, dan juga menunjukkan perwakilan kelompok LGBTQ.

Karakter Li Shang akan digantikan Dua Karakter ‘Pengganti’

Kemudian Jason Reed mengungkapkan bahwa karakter Li Shang ini sesungguhnya bakal tetap ada dalam film Mulan versi live action akan tetapi dalam bentuk dua karakter yang lain. Salah satunya adalah Komandan Tung yang mana bertindak sebagai ayah pengganti dan mentornya dalam film tersebut. Karakter lainnya adlaha karakter Honghui, rekan Mulan sendiri, yang bakal diperankan oleh aktor yang berasal dari Selandia Baru, Yason An. Jason Reed pun memastikan bahwa Honghui mempunyai karakter pendiam, terhormat dan juga jeli sehingga bisa menyeimbangi kedinamisan Mulan.

“Pertemuan awal mereka tak begitu baik. Namun dalam proses pelatihan bersama, mereka memiliki ikatan yang mana sulit sekali untuk dijelaskan karena sama-sama menyadari semangat juangnya. Kemudian mereka membangun persahabatan,” kata Jason Reed masih dikutip dari CNN Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Yason An juga buka suara terkait dengan kemungkinan unsur LGBTQ masijh ada atau tidak ada dalam versi live action Mulan ini. Menurut dirinya, live action Mulan ini berbeda dengan animasi original yang mana dirilis pada tahun 1998.

“Saya melihat sisi yang lain dari karakter Li Shang. Saya tak bisa bicara banyak akan tetapi banyak lapisan yang bisa dilihat dari karakternya (Honghui). Penonton bisa melihat itu ketika menonton film (live actionnya),” ungkap Yason An.

Live action Mulan ini secara garis besar mengikuti kisah klasik yang mana dirilis pada animasinya di tahun 1998. Kisahnya berfokus pada seorang gadis Tionghoa muda yang mana menyamar sebagai seorang pria yang menggantikan ayahnya untuk bertarung.

Kisah film ini sendiri terinspirasi dari legenda tentang Hua Mulan, seorang pejuang perempuan asal China dari periode dinasti Utara dan Selatan yang mana sekitar tahun 420-589 Masehi dan muncul pertama kalinya dalam “Ballad of Mulan.”

Namun karena akhir-akhir ini dunia sedang menaruh perhatian pada keselamatan warga dunia terhadap virus corona, produser film Mulan mengaku pasrah dengan peluang tunda penayangan film ini. Karena akibat virus ini, sejumlah bioskop ddan juga tempat hiburan Negeri Tirai Bambu pasalnya ditutup. Hal ini juga mengancam film blockbuster yang bisa saja gagal tayang. Dan salah satunya adalah Mulan yang digarap dengan budget 300 miliar dollar AS.