Pada tanggal 16 Februari mendatang, warga Tionghoa di Indonesia akan merayakan Imlek. Hanya saja besar kemungkinan kalau Imlek tahun 2018 ini tidak akan dimeriahkan oleh jeruk mandarin. Hal ini dikarenakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dikabarkan tak mengeluarkan izin impor jeruk mandarin menjelang Hari Raya Imlek 2018. Jika memang begitu, maka jeruk mandarin yang identik dengan Imlek bisa tak beredar di pasaran, seperti dilansir Detik.

 

Tapi anda warga Tionghoa tak perlu bingung karena Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia menyebutkan kalau masih akan ditemukan jeruk mandarin di pasaran. Hanya saja menurut Khafid Sirotuddin sang Ketua Umum, jeruk yang beredar bakal diimpor dari Pakistan, bukannya China lantaran tak adanya izin Kemendag.

 

“Kalau yang dimaksud jeruk mandarin, adalah yang berasal dari China, itu Kemendag tidak mengeluarkan SPI (Surat Persetujuan Impor) selama Januari sampai Maret. Tapi kalau yang ditanya adalah jeruk mandarin, yang dari Pakistan ada, itu namanya kinnow, itu di pasar sekarang banyak. Kalau kami (importir) sih biasa saja, enggak masalah. Kita bisa jual yang lain. Dan orang Indonesia paling luwes, karena pangan kita beranekan macam,” pungkas Khafid.

 

Imlek Bikin Harga Ikan Dewa Capai Rp 1 Juta/Kg

 

Sementara itu bicara soal Imlek, rupanya bukan hanya jeruk mandarin saja. Saat ini warga justru begitu tertarik dengan keberadaan ikan dewa alias Torsoro. Bahkan permintaan Torsoro ini begitu meningkat tajam jelang Imlek.Salah satu tempat budidaya ikan dewa di kecamatan Cilongok, Banyumas, saat ini sudah kebanjiran pesanan.

 

Supriyadi selaku manager bursatogel salah satu tempat budidaya Torsoro di Banyumas pun menyebut jika permintaan akan ikan dewa sudah meningkat sejak sebulan sebelum Imlek hingga mengalami puncaknya pada pekan terakhir sebelum Imlek. “Untuk Imlek warga keturunan yang sering menggunakan (beli). Biasanya mereka punya kepercayaan sendiri untuk acara Imlek, mereka beli yang masih hidup di sini dan biasanya dimasak sendiri. Selain itu biasanya suku-suku Batak untuk wilayah di sini ngambil untuk acara adat dari melahirkan, nikahan dan untuk 7 bulanan,” jelas Supriyadi.

 

Menurut Supriyadi, pihaknya juga kebanjiran permintaan dari Jakarta, Bandung, Bogor sampai Sumatera Selatan. Tak main-main, harga ikan dewa di tempat budidayanya mencapai satu juta rupiah per kilogram! Mahalnya harga ikan dewa ini dikarenakan kandungan albumin yang sangat tinggi dan populasi ikan dewa yang begitu langka hingga hampir punah. Pernyataan Supriyadi ini dibenarkan oleh Sukaryo yang menyebut penjualan ikan dewa pada 2018 meningkat yakni mencapai 2 kuintal, sementara pada 2017 hanya menyentuh 1,5 kuintal.

 

Provinsi Aceh Juga Sambut Imlek

 

Imlek rupanya juga disambut antusias di Aceh. Provinsi yang didominasi penduduk agama Islam ini rupanya juga tidak ingin ketinggalan menikmati Imlek. Adalah daerah Peunayong di kawasan pinggiran Krueng Aceh itu yang juga didiami oleh etnis Tionghoa. Di kawasan pertokoan jalan T Panglima Polem dekat Vihara Dharma Bhakti, kota Banda Aceh itu, patung-patung naga dan lampion khas Imlek sudah dipasang.

 

Kendati Aceh adalah provinsi yang menerapkan syariat Islam, warga minoritas Tionghoa masih tetap bisa merayakan Imlek dengan semarak. Kerukunan umat beragama terlihat juga dengan keberadaan tiga vihara lainnya di Peunayong seperti Budhha Sakyamuni, Maitri dan Dewi Samudera. Bahkan ketiga vihara itu berdampingan dengan Gereja Protestan Indonesia di bagian barat, Gereja Methodist dan masjid.